LUAR BIASA!!! keluar dari Metro TV, ini Kisah Sandrina Malakiano, Ketika Hijab Lebih Utama ketimbang Pekerjaan

LUAR BIASA!!!  keluar dari Metro TV, ini Kisah Sandrina Malakiano, Ketika Hijab Lebih Utama ketimbang Pekerjaan
LUAR BIASA!!!  keluar dari Metro TV, ini Kisah Sandrina Malakiano, Ketika Hijab Lebih Utama ketimbang Pekerjaan

KISAH berikut mungkin sudah lama, usang, dan kabur dimakan usia. Namun untuk sebuah hikmah dan pelajaran, tidaklah ada yang tua, kolot dan rapuh. Semua membarukan diri kedalam masa itu sendiri.

SEJAK memutuskan untuk berjilbab, sosok Sandrina Malakiano tak lagi membawakan berita, Ia menghilang. Metro TV tempat ia bekerja dikecam karena melarang Sandrina Malakiano mengenakan jilbab pada saat siaran, meskipun Sandrina sudah memperjuangkannya selama berbulan-bulan dengan mengajak jajaran pimpinan level atas Metro TV berdiskusi panjang. Larangan inilah menjadi alasan Sandrina untuk keluar dari Metro TV.

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan.

Saya sendiri yakin bahwa ” sebagaimana Islam mengajarkan ” di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV.

Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri. Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.

Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang terbaik dan bahwa dunia tak selebar daun Metro TV, saya bergeming dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.

Hikmah Berjilbab

Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu.

Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para profesor di acara Ensiklopedi Al Quran selama Ramadhan tahun lalu, misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup.

Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya liberal dalam berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle ” seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua ” di sebuah lembaga nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.
Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar.

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme “mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya” ternyata bisa bersemayam di kepala orang-orang yang mengaku liberal. [rf/Islampos]

BIKIN GEGER! Demi Ahok, Ancaman dan Seruan Minahasa Merdeka Makin Ramai!

BIKIN GEGER! Demi Ahok, Ancaman dan Seruan Minahasa Merdeka Makin Ramai!
BIKIN GEGER! Demi Ahok, Ancaman dan Seruan Minahasa Merdeka Makin Ramai!


Sejak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok divonis 2 tahun penjara, seruan Minahasa Merdeka ramai di media sosial (mesdsos).

Seruan Minahasa Merdeka muncul sebagai bentuk kekecewaan warga Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) terhadap vonis yang dijatuhkan kepada Ahok.

Warga Minahasa melakukan aksi solidaritas sebagai bentuk dukungan kepada Ahok dengan memasang lilin. Aksi bertajuk ‘Sejuta Lilin dari Manado untuk Ahok’ dilakukan di Jalan Piere Tendean, tepatnya di depan Hotel Aryaduta Manado, Rabu malam (10/5).

Tak sampai di situ, warga Minahasa juga berencana melakukan aksi demonstrasi pada Senin 15 Mei 2017. Aksi kali ini bertajuk ‘Referendum Minahasa Merdeka’.

Aksi tersebut akan dilakukan di depan Kantor Gubernur Sulawesi Utara. Massa aksi akan menggunakan seragam hitam-merah.

Seruan aksi Minahasa Merdeka diposting di fanpage facebook Ancient of Minahasa. “Tuntutan: Referendum Minahasa Merdeka. Sekarang waktunya Minahasa tegas,” tulisnya, Jumat (12/5/2017).

Akun ini juga menyebut bahwa Minahasa tidak termasuk dalam jajahan Belanda. Dikatakannya, Belanda adalah partner Minahasa dalam mengatasi para pemberontak di Indonesia.

Tak hanya itu, Facebook Ancient of Minahasa juga mengunggah beberapa bendera yang dikibarkan sejumlah remaja. Bendera itu berwarna merah dipadu warna biru. Bagian tengahnya berbentuk salib. Diduga, bendera ini merupakan persiapan Minahasa Merdeka.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Sulut, Steven OE Kandouw meminta masyarakat Minahasa tidak berlebihan menujukan aksi simpatik kepada Ahok.

“Saya juga bersimpati pada pak Ahok, tapi saya imbau masyarakat Sulut yang berlebihan dalam menunjukkan simpatinya,” ucap Steven, Kamis (11/5/2017).

Mantan Ketua DPRD Sulut ini menambahkan, aksi simpati kepada Ahok boleh-boleh saja. “Tapi sebagai orang Sulut kita harus tetap menjaga kebersamaan, jangan sampai simpati yang berlebihan bisa merusak kerukunan dan kedamaian yang selama ini menjadi ciri khas daerah kita,” imbuhnya.

Aksi referendum Minahasa Merdeka bukan kali pertama. Sebelumnya pada Desember 2016, puluhan warga juga melakukan aksi demonstrasi. Mereka mendesak pemerintah agar tidak tunduk kepada tekanan massa yang meminta Ahok dipenjara.

“Ultimatum Minahasa. Negara tunduk? Bangsa Minahasa siap referendum,” demikian salah satu spanduk yang dibentangkan massa saat melakukan aksi yang dilakukan pada Kamis 1 Desember 2016.

Berikut ini tuntutan warga Minahasa saat melakukan aksi pada 1 Desember 2016:

Tuntutan nasional:

1. Bubarkan FPI dan seluruh ormas yang berafiliasi dengan Khilafah Daulah Islamiyah/ISIS di Indonesia.

2. Pidanakan/usir Rizieq Shihab terkait semua hal Inkonstitusional yang ia perbuat.

3. Libatkan KPK guna meneliti penggunaan anggaran negara serta audit dana pembayaran sertifikat halal di MUI.

4. Hapus dan cabut system syariah di Indonesia.

5. Pidanakan seluruh tokoh Inkonstitusional.

6. Otonomi Khusus.

7. Cabut dan hapus Surat Keputusan Bersama (SKB) menteri terkait pembangunan rumah ibadah.

8. Stop teror, bom Gereja serta pernyataan kafir

9. Stop diskriminasi terhadap kaum minoritas secara umum dan secara khusus stop diskriminasi atas peran serta dalam membangun bangsa baik di lingkup ASN, TNI, POLRI, maupun di lingkup BUMN.



Tuntutan Daerah:

1. Pidanakan pelaku perusak jejak sejarah

2. Bentuk dan sahkan peraturan daerah perlindungan jejak sejarah

3. Stop pelarangan Santa Claus yang damai serta teratur

4. Bentuk dan sahkan peraturan daerah perlindungan tenaga kerja local

5. Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama dipegang Mayoritas (berlaku sama dengan daerah lain).

6. Evaluasi GM PLN Suluttenggo

7. Penambahan bidang studi bahasa daerah

8. Kembalikan peruntukan tanah dan bangunan (pembangunan 6 bangunan agama, Muslim, Kristen Khatolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu) dilahan ex kampung texas

9. Segera swiping identitas di Sulawesi Utara dan pulangkan warga yang tidak jelas

10. Pidanakan pelaku penyelewengan penggunaan anggaran APBD [opinibangsa.id / psi]

SUBHANALLAH! Cina Publikasikan Salinan Alquran Tulisan Tangan Tertua, Baca Sampai Tuntas!

SUBHANALLAH! Cina Publikasikan Salinan Alquran Tulisan Tangan Tertua, Baca Sampai Tuntas!


China mempublikasikan salinan Alluran tulisan tangan tertua edisi reproduksi, demikian laporan Xinhua, kantor berita resmi pemerintah Cina, Sabtu (6/5).

Kitab suci yang disalin dari tulisan tangan asli tersusun dari 870 halaman dengan berat 12,5 kilogram itu dipublikasikan oleh Ethnic Publishing House. Namun kitab suci umat Islam itu hanya untuk tujuan penelitian sehingga masyarakat umum tidak bisa membelinya.

Baca Juga : TERNAYATA!!! Ini Yang Dilakukan JK Untuk Menangkan Anies-Sandi, Sebarkan!

Bentuk aslinya ditulis selama masa setelah abad ke-11 sebagaimana hasil riset para peneliti dari Peking University. Nenek moyang suku Salar, salah satu kelompok minoritas etnis di Cina, meninggalkan wilayah Asia Tengah ratusan tahun yang lalu dengan membawa Alquran tulisan tangan dan pada akhirnya menetap di kawasan Sungai Kuning.

Alquran tulisan tangan yang asli ditempatkan di museum di wilayah otonomi Salar Xunhua di barat laut Provinsi Qinghai yang dihuni lebih dari 100 ribu jiwa masyarakat Salar. Hal itu menjadi bukti nyata sejarah 800 tahun kehidupan kelompok minoritas etnis Salar yang menganut agama Islam.

"Edisi fotokopi ini bisa menjadi contoh yang bagus untuk melestarikan kitab suci nenek moyang yang sangat berharga di Cina," kata Deputi Direktur Lembaga Etnik dan Agama Provinsi Qinghai, Ma Wenbiao.

Nenek moyang suku Salar yang merupakan bangsa Samarkandi (bekas wilayah Uni Soviet) mendiami wilayah Dunhua pada masa Dinasti Yuan (1271-1368). Awalnya mereka menggunakan bahasa Altaik, cabang bahasa Turki, sebagai bahasa ibu.

Baca Juga : Hakim Ini Menangis Tersedu Dipersidangan, Inilah Penyebabnya..

Setelah sering berkomunikasi dengan suku Han, suku Hui, dan masyarakat Tibet, beberapa kata yang diucapkan suku Salar dipengaruhi oleh bahasa Mandarin dan bahasa Tibet. Saat ini beberapa anak muda suku Salar sudah bisa bahasa Mandarin.

Semua penduduk suku Salar beragama Islam yang taat pada kitab suci, rajin beribadah dan berziarah. Mayoritas suku tersebut bercocok tanam.



Sumber : Antara / republika

HEBOH! Bekerja Dan Menabung Secara Diam-Diam Demi Nikahi Pacar, Pria Ini Berujung Pilu.

HEBOH! Bekerja Dan Menabung Secara Diam-Diam Demi Nikahi Pacar, Pria Ini Berujung Pilu.
HEBOH! Bekerja Dan Menabung Secara Diam-Diam Demi Nikahi Pacar, Pria Ini Berujung Pilu.

TRIBUNNEWS.COM - Tidak ada yang tahu bagaimana jalan cerita cinta seseorang di masa datang. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin. Namun ada pula yang meski sudah berusaha, tapi akhirnya tetap harus berpisah. Seperti apa yang dialami oleh pria ini.
Baca Juga : Mahasiswa Wajib Baca! Ini 7 Perbedaan Pola Pikir Mahasiswa di Indonesia dan Luar Negeri
Cerita seorang pengguna Facebook bernama Fizai belakangan ini menjadi viral di media sosial. Melalui postingan di Facebooknya, Fizai membagikan kisah asmaranya yang berujung menyakitkan. Padahal, Fizai sudah berusaha untuk memperjuangkan wanita yang menjadi kekasihnya.

Diam-diam, Fizai bekerja demi bisa menabung. Uang yang ia hasilkan ia kumpulkan sedikit demi sedikit agar bisa segera menikahi wanita pujaannya. Sayang, pengorbanan itu harus berujung luka. Wanita yang ia cintai ternyata lebih memilih pria lain setelah tiga tahun menjalin asmara.

Berikut adalah cerita yang dituliskan oleh Fizai :
"Udah niaatt bangeett tp yaudah Allah udh rencanain semua. Sengaja gua ga pernah ngasih tau kalo gua kerja, yah biar kejutan buat lu nya.. tapi yaudah hati lu berkata lain dan selamat deh abis putus sm gua lu lgsg jadian, move on yg cepat. Terakhir cek sebelum pisah, kira2 ada 1jtan dan inget janji gua buat halalin lu, nih gua buktiin wkwk. * 3 tahun, buat gua ga mudah buat cari lagi. Apalagi lgsg jadian gitu," tulis Fizai.

Cerita itu pun langsung menjadi viral.

Semenjak diposting pada Rabu (26/4/2017), postingan tersebut telah dibagikan sebanyak 2667 kali. Sebelumnya, Fizai juga sempat mengunggah capture percakapannya dengan sang kekasih. Pada postingan yang diunggah 28 Februari lalu tersebut, kekasih Fizai memang memintanya untuk bekerja.
Beriku adalah percakapan dengan kekasihnya yang sempat diunggah Fizai :

"OTW halalin kamu," tulisnya pada unggahan itu. Sayang akhir yang diharapkan itu tak terjadi.

Netizen pun ikut bersimpati dengan nasib yang menimpa Fizai. Berikut komentar-komentar dari netizen :
Baca Juga : LAGI! Organisasi Papua Merdeka Berulah Lagi Nyatakan Perang Dengan Indonesia
"Sabarr broo fizai.."
"selow gan, wk bentar lagi tenar gan pasti bnyk cewek yg dateng."
"Lanjut kumpulin duitnya buat beli gtx 1080ti."
"Cewek gk cuma satu bang."
"Kelak allah memberikan jodoh yg lbh sholeha bang berdoa kepada allah jodoh sudah di atur kok."
"Semangat bro, gua juga pernah ada di posisi lu 2tahun jagain anak orang niat serius tau tau di hempas gitu ajah wkwkwkw." (*)

Mahasiswa Wajib Baca! Ini 7 Perbedaan Pola Pikir Mahasiswa di Indonesia dan Luar Negeri

Mahasiswa Wajib Baca! Ini 7 Perbedaan Pola Pikir Mahasiswa di Indonesia dan Luar Negeri
Mahasiswa Wajib Baca! Ini 7 Perbedaan Pola Pikir Mahasiswa di Indonesia dan Luar Negeri

Well… Mahasiswa yang pada umumnya adalah anak muda yang berjiwa muda. Yang katanya, mereka adalah kaum intelektual, berkreatifitas tinggi, makhluk yang paling cepat merespon perubahan, bertatakrama, dan pastinya berpendidikan. Tapi apakah semua mahasiswa itu sama ? ada gak sih bedanya pengaruh budaya, social, lingkungan terhadap perilaku anak-anak muda ini yang notaben-nya mereka semua adalah Maha-Siswa. Nah  gimana sih sebenarnya kondisi para generasi bangsa ini, khususnya di Indonesia, apakah baik-baik saja ? Kalau Generasi Bangsa ini kita Compare dengan generasi bangsa Negara lain..apakah masih terlihat baik ?
Baca Juga : LAGI! Organisasi Papua Merdeka Berulah Lagi Nyatakan Perang Dengan Indonesia
1. Budaya membaca, jauh panggang dari api!

Budaya membaca mahasiswa di Indonesia, jauh panggang dari api - Gimana mau matang. Mahasiswa di luar negeri rajin baca buku, bahkan rata-rata mahasiswa di luar negeri membaca 1-2 buku perminggunya. Prinsipnya, kalau mau jadi sarjana harus baca ribuan buku. Well .. di Indonesia, kalau mau jadi sarjana gak perlu baca buku.

2. Path, Instagram, Twitter? What kind of? Is it Food?

Mahasiswa di luar negeri sangat jarang yang tahu apa itu Path, Instagram, Twitter dan beberapa jajaran Social Media lainnya, yang hampir semua Mahasiswa di Indonesia merasa gak PD kalau gak punya. Buat Mereka, terlalu membuang-buang waktu untuk mengetahui apa yang orang lain lakukan. Itu juga yang membuat mereka mempunyai lebih banyak waktu  membaca buku atau berdiskusi mengenai aliran pemikiran mereka terkait dengan berbagai topik. Hal ini lebih terkait ke budaya mereka, yang terkesan individual. Well.. ada plus minusnya juga.

3. Kerja part time. Gengsikah mereka?

Sebagian besar Mahasiswa Indonesia itu gengsinya segede gaban. Gak mau kerja ini, kerja itu. Maunya kerja yang ini, yang itu. Pilah pilih ini itu. Well, di luar negeri kebanyakan mahasiswa kerja part-time, dan gak pilah pilih, juga gak jadi penilaian dari mahasiswa lainnya mengenai pekerjaan orang lain. Mulai pelayan restoran, kasir Dept Store, Pegawai pom bensin, penulis, banyaklah.. yang waktunya mereka bisa bagi dengan perkuliahan. Kerja gak membuat mereka geng si yang Guys, buat mereka lebih gensi itu kalau minta duit sama orang tua.

4. Sebagian besar kampus di Luar Negeri, gak ada sistem absensi

Kebayang gak sih kalau di Indonesia gak pake sistem Absensi. Apa kelasnya masih penuh? Beberapa Kampus di luar negeri gak pake sistem absensi ya guys, ini karena Mahasiswa disana sudah sangat sadar mengenai pentingnya belajar. Jadi gak ada absensi pun mereka tetap datang, Yap mereka tetap hadir mengikuti pembelajaran di kelas. Yang penting akumulasi tugas dan ujiannya bagus, itu udah bisa naik ke semester berikutnya. Gak da sangkut pautnya dengan kehadiran. Pola pikir dan kebiasaan yang benar-benar patut di contoh ya guys..

5. Kemampuan nomor 1, penampilan nomor sekian.

Yang dimaksudkan disini mengenai prioritas keuangan mereka ya Guys,, kebanyakan dari mahasiswa luar negeri lebih mengutamakan prioritas pemanfaatan keuangan mereka untuk keperluan kuliah, nah setelah kebutuhan kuliah udah kelar semuanya, baru deh mikirin “hari ini shopping kemana ya ?”. Kalau di compare dengan gaya hidup mahasiswa di Indonesia, sebagian besar (gak semuanya kok) lebih mengutamakan belanja keperluan ini itu, untuk sekedar memenuhi trend gaya hidup. Beli Handphone, ok !. Beli buku ? Mikir dulu kali ya …

6. Party at the time, Study in the moment.

Pada saat belajar, ya belajar. Pada saat party, ya party. Ini salah satu budaya Mahasiswa di beberapa Negara maju. Mereka tetap party, tapi kuliah tetap masih jadi prioritas. Intinya, semua dilakukan pada waktu dan tempatnya. Bukan karena ngikutin gaya hidup, party sana sini, kuliah jadi keteteran.

7.Tetap ke kampus, walaupun gak ada dosen.

Mahasiswa di luar negeri, mereka sangat concern dengan study mereka. Hal ini disebabkan oleh banyaknya tugas dan budaya belajar di perpustakaan serta persaingan yang sangat ketat. Oleh karena itu, walaupun gak ada jadwal kuliah mereka tetap datang ke kampus. Kalau Mahasiswa di Negara kita gimana ? sebagian besar (sekali lagi, gak semuanya kok) ke kampus kalau ada jadwal kuliah, kalau gak ada ya gak juga.
Baca Juga : HADUH! Indonesia Jadi Olokan Dunia Akibat Pernyataan Jokowi di Hongkong Yang HOAX
Melihat  dan mengadopsi budaya orang lain, selama itu positif, kenapa tidak. segera buat perubahan positif. dimulai dari diri sendiri, yang pastinya akan berdampak bagi diri sendiri, dan kalau itu dilakukan secara bersama – sama, akan memberikan dampak yang baik bagi bangsa ini.  Miris lihat Indonesia, kalau Mind Set generasinya masih gitu gitu aja .

LAGI! Organisasi Papua Merdeka Berulah Lagi Nyatakan Perang Dengan Indonesia

LAGI! Organisasi Papua Merdeka Berulah Lagi Nyatakan Perang Dengan Indonesia
LAGI! Organisasi Papua Merdeka Berulah Lagi Nyatakan Perang Dengan Indonesia

INDONESIA MILITER .com - Kelompok Sipil Bersenjata Papua yang menyebut diri sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyatakan perang pada pemerintah Indonesia. Pernyataan itu disampaikan Goliath Tabuni di markas mereka di Kwiyawagi, Papua Barat. “Kami nyatakan siap perang dengan militer Indonesia untuk Papua merdeka,” kata Goliath Tabuni lewat siaran pers yang diterima GATRA. Siaran pers itu terima GATRA.com dari TPNPB atas perintah dari Sebby Sambom, juru bicara Organisasi Papua Merdeka.
Baca Juga : HADUH! Indonesia Jadi Olokan Dunia Akibat Pernyataan Jokowi di Hongkong Yang HOAX
Goliath Tabuni mengklaim sebagai pimpinan panglima tinggi Komando Nasional, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dengan pangkat Jenderal. Ia mengaku memimpin 7 Komando Daerah Pertahanan (KODAP) di wilayah pegunungan Papua Barat.

Pernyataan yang disampaikan dalam upacara gabungan 7 KODAP itu, menurut Tabuni, ditujukan kepada Pemerintah Indonesia, Dunia Internasional, Oranisasi Perjuangan Papua Merdeka, dan Birokrat Orang Asli Papua di seluruh wilayah Papua Barat.

“Kami bukan ras melayu, kami ras Melanesia,” kata Tabuni. Pada puncak acara yang dilaksanakan di Markas KODAP Kwiyawagi Papua Barat itu disebutkan dihadiri oleh ribuan rakyat Papua serta prajurit TPNPB.

Tujuh KODAP telah berkomitmen satukan semua kekuatan senjata dan amunisi yang dimiliki dari KODAP masing-masing yang telah hadir pada acara itu. Patok wilayah kekuasaan TPNPB juga telah tentukan.

Aparat militer Indonesia, lanjutnya, dilarang melintas dari Habema, Tinggina, dan sekitarnya. Jika kedapatan militer Indonesia melintas wilayah yang telah patok, ancam Tabuni, TPNPB tetap akan tembak mati. Hal itu diungkapkan langsung oleh seorang Panglima KODAP Kwiyawagi dalam pernyataanya pada acara itu.

Pimpinan KODAP yang turut hadir dalam acara ini adalah, Brigjend Militer Murib selaku panglima KODAP Sinak bersama Kepala Staf KODAP bersama anggotanya, Pimpinan KODAP Kwiyawagi Brigjend. Biliru Murib, Panglima Daerah Kwiyawagi dan Panglima Daerah Ilaga Brigjend Peni Murib, serta komandan operasi Lekagak Telenggen selaku Painitia Penyelenggara Kegiatan.
Baca Juga : Subhanallah! Menyambut Bulan Suci Ramadhan, Raja Salman Kirim 250 Ton Kurma Untuk Muslim Indonesia.
Pernyataan sikap itu dibacakan oleh Lekagak G. Telenggen, selaku Panitia Penyelenggara kegiatan, di panggung dalam upacara bendera. Di akhir upacara, mereka melakukan rapat pimpinan bersama prajurit dari KODAP, menyusun strategi bersama untuk melakukan revolusi.

Sumber:http://www.gatra.com/fokus-berita-1/237795-kelompok-sipil-bersenjata-papua-nyatakan-perang

HADUH! Indonesia Jadi Olokan Dunia Akibat Pernyataan Jokowi di Hongkong Yang HOAX

HADUH! Indonesia Jadi Olokan Dunia Akibat Pernyataan Jokowi di Hongkong Yang HOAX
HADUH! Indonesia Jadi Olokan Dunia Akibat Pernyataan Jokowi di Hongkong Yang HOAX

[PORTAL-ISLAM] Pernyataan Presiden Joko Widodo saat kunjungan di Hongkong yang mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia terbesar ketiga di dunia, setelah China dan India, dicemooh. Jokowi dianggap menyebar HOAX.
Baca Juga : Subhanallah! Menyambut Bulan Suci Ramadhan, Raja Salman Kirim 250 Ton Kurma Untuk Muslim Indonesia.
Pengamat ekonomi dari luar, Jake Van Der Kamp dalam artikel di kolom bisnis South China Morning Post (SCMP) edisi 1 Mei 2017, mencemooh data yang dimiliki Presiden Jokowi. Pasalnya, dalam catatan dia, Indonesia jangankan peringkat tiga dunia, tapi cuma berada di peringkat ketiga belas tingkat Asia.

Pada edisi 1 Mei SCMP, Jake Van Der Kamp memberi judul opininya sangat menghentak. "Sorry President Widodo, GDP Ranking are Economists' Equivalent of Fake News."

Jake mengutif ucapan Jokowi.

"Indonesia's economic growth is the third in the world after India and China," said Indonesian President Joko Widodo.

Dengan nada keheranan, Jake menulis opininya dengan kalimat: Third in the world, is it? What world is that?

Selanjutnya Jake menguraikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5,02 persen itu hanya berada di urutan ke-13. Urutan tersebut pun bukan dunia tetapi di kawasan Asia.

Jake pun menjelaskan siapa saja negara yang masuk 12 besar dalam pertumbuhan ekonomi Asia tersebut. Dia menulis India 7,5 persen, Laos 7,4 persen , Myanmar 7,3 persen, Kamboja 7,2 persen, Bangladesh 7,1 persen, Filipina 6,2 persen, China 6,7 persen, Palau 5,5 persen, Timor Leste 5,5 persen, dan Papua New Guinea 5,4 persen.
Baca Juga : HOT NEWS! Ini Kronologi Wisatawan Singapura Yang Digigit Komodo Di NTT
WADUHHHH.... LAGI-LAGI BIKIN MALU DI KANCAH INTERNASIONAL.

Link:
Opinion: Sorry President Widodo, GDP rankings are economists’ equivalent of fake news
http://www.scmp.com/business/article/2092048/opinion-sorry-president-widodo-gdp-rankings-are-economists-equivalent-fake